twitter @endikkoeswoyo

I Love You itu alat, a miss you itu tujuan -

twitter @endikkoeswoyo

Some time love make me wrong, sometimes love make me strong -

twitter @endikkoeswoyo

Cintai aku dengan caramu, karena aku mencintaimu dengan caraku -

twitter @endikkoeswoyo

Cinta itu tidak penah pergi ke mana-mana, tetapi manusianya yang terkadang memilih pergi -

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Jumat, 23 Desember 2016

INI BUKAN SOAL TELOLET, TAPI INI SOAL MENULIS


INI BUKAN SOAL TELOLET, TAPI INI SOAL MENULIS

Oleh : Endik Koeswoyo
 

Siapa yang tidak tau Om Telolet Om? Pertanyaan sederhana yang sudah pasti kita ketahui jawabannya. Telolet sudah menjadi viral di Indonesia dan dunia, mewabah kemana-mana bak sebuah virus. Ya begitulah saudaraku semuanya, bahagia itu memang sederhana, cukup teriak “Om Telolet Om” ketika bus lewat, lalu berbunyilah klakson bus, kemudian jingkrak-jingkak girang. Sangat-sangat sederhana bukan untuk bahagia itu? Tapi hati-hati jangan sampai mengganggu lalu lintas apalagi membahayakan diri sendiri bahkan orang lain. Demam telolet boleh, ikutan telolet juga boleh, tapi sekali lagi jangan sampai menggangu kelancaran lalu lintas apalagi sampai nekat menghadang bus beramai-ramai.

Tapi tulisan ini bukan akan membahas soal telolet, tetapi tulisan ini lebih kepada bagaimana menulis dan menulis. Mencari ide menulis memang katanya susah, sudah susah-susah menulis enggak tau mau diapakan. Dan sebenarnya hambatan calon penulis ketika tidak bisa menyelesaikan tulisannya itu karena mereka tidak tau, setelah selesai mau diapakan tulisan ini? Setelah selesai mau dijadikan apa tulisan ini? Setelah kata ‘SEKIAN’ atau ‘SELESAI’ menjadi akhir sebuah naskah siapa yang akan menerbitkan? Masalah itulah yang menjadi problem para calon penulis dan para penulis. Termasuk saya kadang kala juga begitu.

Akan tetapi saudara-saudara semua! Tenang saja, menulis atau belajar menulis itu seperti belajar menabung, apa yang kita tulis hari ini belum tentu menjadi sesuatu, belum tentu langsung menghasilakan hari ini juga. Menjadi penulis itu harus sabar, seperti sabarnya kita ketika menunggu bus lewat dan meminta telolet itu. Kadang sudah lama nunggu bus pas lewat Pak Sopir nggak mau bunyiin teloletnya, kesel juga sih rasanya, tapi kalau lama nunggu tetapi akhirnya bus yang lewat berbunyi telolet kita pasti girang bukan kepalang. Begitulah menulis, harus sabar dan nanti pasti akan ada hasilnya, nanti suatu kelak pada masanya yang kita tidak tau entah kapan, bisa jadi besok atau lusa.

Tidak jarang penulis menawarkan naskah ke sana kemari berhari-hari, berminggu-minggu bertahun-tahun tidak mendapatkan hasil, tetapi nantinya pasti akan mendapatkan hasilnya. Bahkan, dalam sebulan terakhir saya menulis hampir 15 sinopsis untuk film layar lebar, ketika menulis saya yakin dari tulisan-tulisan saya yang cukup banyak itu, pasti akan ada yang cocok, pasti akan ada produser yang mau. Dan hasilnya, dalam 2 bulan ini saya menulis belasan sinopsis, setiap pagi setelah subuh saya selalu menulis sinopsis, saya kirim ke produser atau sutradara, say amenulis saya kirim ke sutradara atau produser yang saya kenal, begitulah terus menerus tanpa lelah, dan hasilnya? Seperti menunggu bus sambil teriak telolet, saya mengirim sinopsis sambil teriak dalam hati “Om terima Om, terima sinopsis saya!” Dan alhasil dua dari sekian belas sinopsis saya diterima. Girang? Jungkir balik? Ngakak guling-guling? Atau jinkrak-jingkak? Ah silahkah saja anda membayangkan sendiri, bagaimana rasanya saat nunggu bus telelolet dan anda mendapatkan suara itu, bahagianya bukan kepalang.

So? Jadi? Terus? Lalu? Semua kembali kepada kita, siapa yang banyak menulis dialah yang memilik banyak tabungan. Siapa yang banyak menulis dialah yang akan dikenang sepanjang jaman. Siapa yang banyak menulis dialah yang paling berpeluang mendapatkan apa yang dia inginkan. Menulis itu sederhana, bahagai itu juga sederhana, yang sulit adalah konsisten dan tidak mudah menyerah. Dan pagi ini, 24 Desember 2016 artikel berjudul “Ini bukan soal telolet, tapi ini soal menulis” adalah artikel kedua yang saya tulis dalam misi gerakan menulis satu hari satu artikel. Gerakan ini saya harapkan akan menjadi pemacu teman, sahabat dan saudara saya yang ingin menjadi penulis. Tema apa saja bisa dijadikan ide dasar untuk menulis, tinggal mau apa tidak? Terakhir, sebuah parikan untuk anda, “Naik bus Puspa Indah dari Malang ke Jombang, yang lain sudah bisa menulis Indah situ bisa ngapain Bang?” ---- “Numpak bis Puspa Indah katene nang Jombang, duduk manis karo gebetan! Katene nulis ojok kakean alasan, duduk manis terus lakukan!”  


***

TENTANG PENULIS
Endik Koeswoyo, penulis novel, buku dan skenario, lahir di Jombang, saat ini tinggal di Jakarta. Twitter : @endikkoeswoyo Instagram : @endikkoeswoyo Facebook : Endik Koeswoyo 

Kamis, 22 Desember 2016

Om Menulis Om (Gerakan Satu Hari Satu Artikel)



Om Menulis Om
(Gerakan Satu Hari Satu Artikel)

Budaya menulis di Indonesia masih sangat rendah, dukungan pemerintah kepada penulis juga sangat kurang bahkan bisa dibilang tidak ada. Padahal, menulis itu sebuah pekerjaan yang sangat penting dan sangat di butuhkan. Sejarah bisa ditelusuri dan dipahami juga karena adanya bukti tertulis dalam prasasti-prasasti yang ditemukan. Budaya literasi di Indonesia sekali lagi belum memenuhi standar baik itu mutu, baik itu dukungan, baik itu kualitas, baik itu kwantitas dan sebagainya, dan sebagainya.
Negara lain, tidak udah disebuah sebagai negara maju, karena semua negara sama saja, tidak ada itu negara maju atau negara berkembang, semua negara punya cita-cita sama dan berlomba menjadi negara yang baik di mata rakyatnya dan di mata dunia. Kembali lagi kepada literasi, pemerintahan di negara lain banyak yang sudah memiliki lembaga yang khusus menangani masalah buku, penulis atau sebut saja sebagai literasi. Negara tetangga kita saja, memiliki dewan buku, kerjaan mereka jelas, membantu penulis-penulis untuk menciptakan buku-buku yang bagus. Buku bagus itu yang bagaimana? Buku bagus itu yang ditulis dengan hati senang, ditulis dengan tenang, artinya penulis mendapatkan dana riset, dana penelitian, uang kopi, uang listrik, uang makan dan tetek bengeknya, emang nulis nggak perlu biaya? Penulis itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, dalam menulis sebuah buku rata-rata penulis akan menghabiskan waktu sekitar 3 bulan, bahkan bisa 3 tahun, nah selama 3 bulan itu mereka makan apa kalau tidak ada support? Bagaimana hasil tulisan bisa bagus kalau masih mikirin makan? Bagaimana tulisan bisa berkualitas kalau untuk riset penulis harus  menyisihkan dan memetong uang jajan anak? Memangkas uang belanja istri? Mengurangi uang makan keluarga? Itu masalahnya.
Standar hidup penulis di Indonesia tidak tinggi-tinggi amat kok, penulis Indonesia ini hampir semuanya sederhana, standarnya juga simple, ketika penulis keluar rumah anak dan istri di rumah tersenyum, itu saja standarnya. Walapun profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup, tetapi banyak penulis yang berani mengambil keputusan dan sikap, sebagai penulis full time, tidak menjadikan penulis sebagai sampingan. Resikonya? Resikonya tidak ada asalkan bisa mengatur management, kapan penulis dapat uang, kapan penulis mengelola uang dan kapan penulis harus memikirkan untuk mendapatkan uang lagi dan lagi dari tulisannya. Simplenya begini, dari satu buku penulis harus memilik terget penghasilan, missal 1 buku akan menghasilkan 25 juta, maka silahkan saja dibagi berapa anda ingin digaji setiap bulannya? Anggap saja 5 juta/bulan cukup, maka 1 buku akan mencukupi kebutuhan selama 5 bulan. Kalau satu buku bisa menghasilkan 25 juta, bagaimana kalau satu buku hanya menghasilkan 3 juta saja? Maka rumusnya harus dibalik, menulislah 2 buku dalam sebulan, hehhee… bisa? Bisa saja kalau mau. Bisa tapi susah, tetapi kalau kita memiliki kemampuan menulis, maka sumber pendapatan kita bukan hanya dari buku, bisa dari cerpen atau opini di media cetak atau online. Bisa mendapatkan sumber dari situs-situs internet, bisa menjadi penulis lepas yang menulis artikel untuk online, bisa menjadi penulis bayangan, dan jangan lupa, industri menulis ada di dalam dunia televisi, iklan dan film, kalau penulis bisa masuk ke dalam dunia entertainment yang satu ini, bisa dijamin kehidupan atau keuangan akan mencukupi.
Jangan mengandalkan satu titik, fokus boleh hanya pada buku, tetapi cobalah merambah dunia literasi lainnya. Oh ya, apaan sih literasi itu? Ational Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai "kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.
UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang "multiple Effect" atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Pertanyaan lainnya, bagaimana mulai menulis? Kapan mulai menulis? Bagaimana caranya menulis? Ini adalah pertanyaan kuno, pertanyaan absurd yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Bagaimana memulai menulis? Baca bismillah duduk manis, mulailah menulis, tidak ada cara lain selain itu? Jawabnya tidak, duduk manis dan menulislah. Kapan mulai menulis? Sekarang, ya, jawabnya adalah sekarang tidak bisa menunggu besok atau entar. Cara menulis? Bisa di ketik, ditulis tangan, ditulis dengan handphone, ya begitulah caranya. Tulislah apa yang ingin anda tulis. Contoh sederhana memulai menulis adalah dengan yang dekat dengan kita, kucing kita mungkin, kursi kita mungkin, masakah ibu kita mungkin, gelas kesayangan kita mungkin, sepatu kita juga bisa. Itinya tulislah yang dekat dan sangat mudah untuk kita pahami. Belajar menulis artikel yang sederhana, mengulas produk-produk yang kita pakai sehari-hari adalah cara paling mudah mengasah kemampuan menulis. Untuk anda yang baru memulai, belajarlah menulis artikel atau opini tentang benda-benda di sekitar anda, benda yang bisa anda sentuh dan anda lihat, sehingga mudah membuat tulisan tentang benda itu, tinggal menulisnya dengan cara yang berbeda, suka-suka anda.
Dunia sudah serba modern, bukan saatnya kita berpangku tangan kemudian membisu asik dengan gadget masing-masing, dunia sudah modern jangan hanya menjadi pembaca ponsel, tetapi maafkan media online untuk menunjukkan karya tulis yan keren. Biasakan menulis 1 hari satu artikel pendek, kalau artikel itu temanya menyambung dalam 30 hari sudah bisa jadi sebuah buku. Simple saja, menulis 2 jam sehari sangat pas untuk siapa saja, tidak perlu lama-lama, tetapi jangan juga terlalu singkat. Isu-isu yang sedang ramai dibicarakan juga bisa dijadikan tema menarik tulisan kita.
Sebenarnya arah tulisan ini mau kemana? Tergantu anda mau membawa arahnya kemana. Yang jelas tulisan ini hanya sebuah opini singkat tentang budaya literasi di Indonesia yang masih sangat kurang. Jumlah buku yang diterbitkan setiap bulannya juga masih sangat kurang, dan lagi perpustakaan dan toko buku semakin sepi, tergerus peradaban modern katanya. Padahal buku adalah jendela dunia yang harus tetap bertahan dan harus dipertahankan. Kalau saja ada 100 penulis yang bisa bersatu menghasilkan karya-karya yang luar biasa, maka pergerakan buku di Indonesia pastilah akan menanjak. Hasilnya pasti akan sangat luar biasa, apalagi ada dukungan pemerintah. Dukungan yang bagaimana? Simple, missal penulis-penulis mengajukan ide atau outline tulisan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung jawab mengenai buku, kemudian jika ide atau outline itu memang layak diterbitkan, minimal pemerintah memberikan support dana kepada penulis, misal satu buku yang diajukan membutuhkan waktu 6 bulan, selama 6 bulan ini, penulis digaji pemerintah, dan pemerintah akan mendukung penerbit yang menerbitkan buku tersebut, didukung secara promosi salah satunya pasti akan menjadi buku yang bagus. Melihat negara tetangga, di sebelah kita, mereka sudah melakukan itu, naskah atau outline dari penulis diajukan ke dewan buku, kemudian dibaca oleh dewan buku, kalau naskah outline itu dinilai bagus, walaupun isinya mengkritik pemerintahan akan dibiayai, dari proses penelitian, penulis, penerbitan dan proses penjualan akan didanai oleh pemerintah, ini sangat menarik bukan?
Sudahlah, tidak usah bermimpi yang muluk-muluk, sekarang ini kita harus bergerak, mulailah menulis dengan menjadikan budaya membaca buku sebagai pilihan utama. Dengan banyak membaca kita akan bisa banyak menulis. 

---
TENTANG PENULIS
Endik Koeswoyo, penulis novel, buku dan skenario, lahir di Jombang saat ini tinggal di Jakarta. Twitter: @endikkoeswoyo Instagram : @endikkoeswoyo  Facebook : Endik Koeswoyo 


Sabtu, 22 November 2014

KUIS FILM CERITA CINTA


KUIS FILM CERITA CINTA

10 Undangan Premiere buat kalian dari Endik Koeswoyo...


Halo GENK... Saya Endik Koeswoyo, penulis novel dan juga penulis Skenario FIlm Cerita Cinta, nah... saya mau bagi-bagi 10 Undangan Premiere antara tanggal 18, 19 atau 20 Januari gitu deh Premierenya di Jakarta. Undangan Premiere ini khusus dari saya, dan khusus buat kalian yang aktif bantuin promo Film Cerita Cinta di media sosial... Caranya Gampang.

1. Follow akun resmi Twitter kami @filmceritacinta atau Fanbase Facebook, atau Instagram, kepoin aja di googling pasti ketemu...

2. Ajakin temenmu buat nonton trailer ini, mentions ke akun twitter @filmceritacinta--- CONTOH... Halo @akunteman Ini @filmceritacinta keren loh... LINK YOUTUBE ( http://youtu.be/8B7H2yMgPnc )  CC ke @endikkoeswoyo 

3. Terakhir, tinggalkan komentar kalian disini... dan sertakan akun twitter kalian... saya akan pilih 10 orang yang aktif :) buat Premiere dan nonton bareng sama pemain Film Cerita Cinta :) ...  pengumuman pemenang tanggal 10 Januari yes... ini khusus kuis dari penulis, nanti masih banyak kuis lain dari akun resmi @filmceritacinta


DAPATKAN PENAWARAN HOTEL-HOTEL TERBAIK INDONESIA DI SINI

Sabtu, 08 November 2014

Kumpulan Puisi CINTA MENGGUGAT



Kumpulan Puisi
CINTA MENGGUGAT


KETIKA CINTA MENGGUGAT #1
Oleh : Endik Koeswoyo

 
Tuan dan Puan yang terhormat. Perhatian tentang cinta yang kami bangun terus menggemparkan! Menggetarkan! Perhatian itu bukan sekali-kali berhubungan dengan kegaluan, bukan! Bukan sekali-kali hanya tentang kata pacaran, itu juga bukan! Kegemparan itu tentang asmara yang membuncah, penuh, membludak dari hati terdalam
Dengan ini kami yang sedang dilanda cinta. Memaknainya sebagai sebuah masa yang tepat. Memaknainya sebagai memang sudah saatnya cinta itu tumbuh dan bersemi. Itulah proses kehidupan, proses kehidupan yang harus kita jalani sebagau umat manusia. Lalu salahkan ketika kami saling mencintai dan ingin membangun cinta yang suci itu?
Kegeparan jaman modern, jaman imperialisme yang sudah mengobok-obok perikehidupan. Mengobrak-abrik perilaku dan tingkah laku, dengan mengatas namakan roda zaman yang katanya terus berputar? Salahkan bila kami saling mencintai?

Apakah saya ini yang Tuan dan Puan hanya pandang sebelah mata Tidak layak untuk jatuh cinta? Apakah saudara saya yang tukang sayur itu tidak layak jatuh cinta? Apakah saudara saya yang tukang pungut sampah itu tidak layak jatuh cinta? Apakah saudara yang tukang becak, buruh tani, tukang parkir itu tidak layak untuk jatuh cinta? Bukankan Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan untuk saling mencintai?

Salahkan jika kami yang memang sudah saatnya ini. Salahkan jika kami yang memang sudah waktunya ini untuk mencintai dan saling mencintai? Salahkan jika kami punya niatan tulus setulusnya untuk membangun jalinan kasih tanpa batas. Salahkan jika kami yang sudah saling mengikrarkan janji suci ini mengharap Tuan dan Puan merestuinya dan menjadikan cinta kami halal, Fillah demi Tuhan...

Salahkan wahai Tuan dan Puan yang terhormat? Pada siapa saya harus menggugat? Tak perlu rasanya saya menghujat takdir. Tak harus rasanya saya merana-rana, meratap-rapat lalu menangis-nangis mengemis. 

Tuan dan Puan yang terhormat. Dalam kisah asamara, tidaklah boleh dipisahkan antara aturan dan sikap budi pekerti. Sikap dan perilaku yang kami yang saling menjaga, tanpa melukai satu sama lain. Sikap dan perilaku yang sudah menghilang pudar, hancur digempur peradaman jaman. Masih kami pegang teguh, tak peduli apa itu omongan orang, azas-azas dan perilaku teguh kami pegang agar Tuhan tidak murka dengan kisah asmara kami. Cinta dan kasih sayang telah menjadi nyawanya hidup kami, menjadi nyawanya fikiran-fikiran atas tindakan-tindakan kami.

Kami percaya dan kami yakin, cinta kami akan menyatu. Walaupun Tuan dan Puan belum memberikan restu, sekali lagi restu. Karena juga sudah menjadi sifat manusia, pihak yang kita senangis itulah yang menjadi paling benar, menjadi sebenarnya yang belum tentu benar.
Tapi kami percaya, cinta suci itu berdiri paling tengah, berdiri paling tegap dan paling kokoh. Ya, berada pada barisan paling tengah, pada golongan yang netral-netral saja. Cinta tidak memihak para pihak yang menggugat, cinta tidak memihak para pihak yang tergugat. Cinta itu independen, berdiri sendiri memegang penuh kata keadilan untuk perikecintaan yang tulus iklas dan suci


 


MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER